ORA WEDI GETIH !!!!!!!!!!!!

selamat datang di blog kami
kalau anda orang indonesia yang cinta indonesia kunjungi kami di sini
Tampilkan postingan dengan label Fusbal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fusbal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Hope For The Great Indonesian Football Future



Talking about football in Indonesia is like breathing for normaly person. Football is the most popular sport here. All of people love football so much, even people more love football than themself. Young, Old, Male, Female, Islam, Christian, all of them enjoy this activity so much. Maybe all of the reader don't believe if Our football not only has sportivity but also historical moment of the National Independence.
Maybe the Indonesian football are not well known our spirits to show the World our awakening football as the Indonesian golden history. Our national team is the first Asian team who participates on FIFA World Cup. So Indonesia has asset to shock the world again.
Now the hope are rising, Our football passion on the top and our talents are rising too. That confidence are rising from the boys on u-23 national team who show their talents and skills at many friendly match. So our optimism built up again.

BEGIN FROM SEA GAMES 2011
Indonesia on the move, and that will be start at The SEA GAMES 2011. 23 young boys are ready to reach again the gold medal and the prestigue of the national team and the Indonesian football. These are the facts.
1. MANY FAST PLAYERS
Indonesia and another Southeast Asia teams usually use their pace to build their strike. Indonesia use their fast wingers to destroy the opponent defence area. We are lucky, because we have many quick players in many potitions. Indonesia has quick players in winger, forwrder, and second forwarder. Indonesia has many quick wingers, they are Oktovianus Maniani, Ramdani Lestaluhu, and Ferdinand Sinaga. Behind the striker, There are Andik Vermansyah, and Yongki Aribowo. In the front of all, Indonesia has Syamsir Alam, Titus Bonai, and Patrick Wanggai.


2. INTERNATIONAL EXPERIENCES
Indonesia has many players who play for a foreign teams. They are Syamsir Alam, the guy who plays for Penarol the Uruguayan First Division Team, Yericho Christiantoko plays for Vise from Belgium. Titus Bonai and Yongki Aribowo ever attend the AFC Championships, AFC Cup, and AFC Champions League.

3. NICE FRIENDLY MATCH RESULTS
4. THE INDONESIAN SPECIAL ONE, RACHMAD DARMAWAN
alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668130252834701810" />

The Indonesian Jose Mourinho, Rahmad Darmawan makes different in the national team. He creates this team stronger, and more collective. He looks so near with all of players. This intimate can bulid the unity in the team.
These are facts. Ready or Not Ready SEA Games is closer.
Thanx for read my post, You should comment this one, but if you don't want to do that NO PROBLEM

Jumat, 21 Oktober 2011

Blunder PSSI Bung Djohar


Kontroversi, sebuah kata yang nampaknya sangat lekat dan identik dengan organisasi sepakbola tanah air, PSSI. Sejak lama organisasi yang lebih tua dari Negara Indonesia tercinta ini sering dilanda isu-isu yang tak ada habisnya. Umumnya, bukan kabar baik yang muncul dari kantor pusatnya di Senayan, melainkan citra buruk terus terpampang jelas di wajah organisasi olahraga nomor wahid di tanah air itu. Yang paling fenomenal adalah era kepemimpinan Nurdin Halid. Era Nurdin dianggap masyarakat pecinta sepakbola nasional sebagai masa terburuk dalam sejarah kepengurusan Federasi tersebut. Nurdin dianggap banyak pihak terlalu menyeret sepakbola ke ranah politisasi yang seakan-akan menjadikan sepakbola sebagai barang dagangan yang seenaknya sendiri dijual ke partai politik tertentu sebagai ajang kampanye paling efektif. Namun bukan cuma zaman Nurdin saja terdapat banyak kontroversi, Di era kepemimpinan baru, Prof Djohar Arifin Husin dan organisasi yang dipimpinnya dianggap melakukan hal nyaris serupa dengan Nurdin Halid cs. Banyak keputusan yang sangat kontroversial lahir di awal kepemimpinannya di PSSI. Mulai dari Kompetisi, Hak Siar, hingga sapu bersih dan cuci gudang yang diterapkannya terhadap sepakbola dalam hal ini PSSI. Berikut ane akan membahas blunder-blunder yang dilakukan PSSI era Djohar AH.
Sapu Bersih Serba Nurdin
Bukan hanya perusahaan yang mampu melakukan cuci gudang alias sapu bersih, Organisasi yang memiliki anggaran dasar dan rumah tangga yang jelaspun mampu melakukannya dengan sangat simpel dan cepat sekali.
1. Pecat Riedl
Kesan anti Nurdin begitu lekat dengan PSSI baru ini. Ekspektasi masyarakat yang terlanjur benci dengan Nurdin Halid memang sangat besar terhadapnya, namun sang profesor keblabasan dengan membuang semua yang berbau Nurdin. Mulai dari pengurus, Kompetisi, bahkan hingga Pelatih Timnas yang sebenarnya hanya mengurusi teknis bermain jadi kena batunya dianggap sebagai antek nurdin. Dianggap tak punya surat kontrak dengan PSSI, Alfred Riedl yang cemerlang di AFF akhir tahun lalu harus merelakan pekerjaannya diambil orang hanya karena komunikasi yang salah.
2. Kompetisi Amburadul

Jika mencari prestasi apa yang mampu diberikan Nurdin Halid dalam Kpemimpinannya sejak tahun 2003 di PSSI, jawabannya adalah ISL. ISL menjadi kompetisi paling sempurna dalam sejarah sepakbola tanah air. ISL menjadi kompetisi resmi, profesional, dan punya nilai jual yang bagus. Banhkan menurut penilaian AFC, Kompetisi yang dimulai sejak 3 tahun silam ini menduduki ranking 8 Asia dan masih yang terbaik di daratan ASEAN. Bahkan soal sponsorship, ISL hanya kalah dari Jepang. Ngebanggain kagak tuh gan... Dari tahun ke tahun ISL semakin mantap dan membenahi dirinya. Kompetisi dibawah naungan PT LI ini semakin sedikit mEndapat kritik. Kompetisi yang dikenal selalu khas dengan keributan dan anarkisme suporter ini, menjadi harum citranya dari tahun ke tahun. Tak lagi terdengar keributan antar suporter di ISL edisi terakhir. Bahkan kita boleh bangga dengan suporter-suporter yang slalu meramaikan pentas kasta tertinggi kita tersebut. Memang ISL belum sempurna, masih banyak kekeliruan dan kelemahan yang ada saat berjalannya kompetisi. Namun jika kompetisi yang sedang bertahap menjadi lebih baik itu dirombak dengan cara yang sangat tidak elegan dan cenderung sangat memaksa.
PSSI baru ala Profesor Djohar membuat mawut(amburadul)kompetisi tersebut. Keputusan-keputusan aneh yang banyak dibuat soal kompetisi rasanya sangat mencerminkan sikap tak profesional PSSI. Ide tentang kompetisi terus-menerus berubah, setelah akan menggelar kompetisi dengan format 2 wilayah, lalu 1 wilayah dengan 18 tim. Kini PSSI mantap dengan kompetisi 1 wilayah 24 tim. Jelas sangat aneh. PSSI terlihat sangat mengakomodir banyak kepentingan, salah satunya dari LPI. Kompetisi PERUSAK bentukan Arifin Panigoro sangat mencerminkan sikap gegabah yang ditunjukkan PSSI. Banyak tim yang langsung masuk ISL tanpa promosi misal PSMS Medan yang memang karena Djohar orang Medan yang punya fanatisme terhadap Ayam Kinantan. Memungut kembali Bontang FC ke kasta tertinggi. Dan yang paling kontroversial mengakomodir 4 tim eks LPI antara lain Persema, Persebaya, Persibo, dan PSM. Sampai hari diterbitkannya entri ini, belum jelas kelangsungan kompetisi ini. Bahkan kompetisi tandingan siap digelar 14 tim lain yang membelot. Nama yang dipakai juga terdengar sangat LPI, nama yang dipakai ialah Indonesia Premier League, atau jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti Liga Primer Indonesia. Pengurus liga ini juga orang LPI, lihat saja Sihar Sitorus yang merupakan anggota k73, Abi Hasantoso orang LPI juga. Sukses bagi Gundol dan kawan-kawan, dengan kekayaannya bos Medco ini mampu menyetir orang-orang PSSI.
3. Hak Siar Kacau Balau


Soal hak siar, ANTV menjadi yang paling dirugikan. TV Swasta milik keluarga Bakrie tersebut harus merelakan 2 proyek besar soal penyiaran sepak bola Indonesia. ANTV yang sebelumnya mendapat hak siar ISL dan pertandingan Timnas Indonesia harus merelakan hak tersebut karena manajemen tender yang tak transparan dan cacat hukum.
Soal siaran timnas yang sedianya akan disiarkan oleh ANTV selama beberapa tahun ke depan harus diberikan ke SCTV. Lagi -lagi ANTV kehilangan hak menyiarkan laga kompetisi karena diraup oleh MNC Group. Entah karena sikap anti-Nurdin yang lekat sehingga keluarga Bakrie yang dikenal sangat dekat dengan Nurdin harus kena batunya.
Demikian blunder-blunder yang dilakukan PSSI di periode awal kepemimpinannya. Kendati terlalu singkat menilai prestasi mereka di waktu sesingkat ini, tapi kita tentu berharap perbaikan di masa depan. Thx 4 Read entri ane. cakepan lagi kalo komen. Entri Ini No Repost. Kalo ada yang sama berarti copas dari blog ane. Wassalam

Kamis, 29 September 2011

Halalkah Dalam Sepakbola??

Sepakbola sebagai olahraga paling digandrungi di seluruh penjuru dunia, nampaknya menjadikan semua hal tentangnya menarik untuk dibahas. Termasuk hal-hal yang nampaknya masih dianggap tabu dalam sepakbola. Kebanyakan pemain melakukan ini untuk mangharapkan keuntungan dan belas kasihan dari wasit yang memimpin pertandingan. Hal-hal tersebut bak pisau belati, apabila salah menggunakannya bisa jadi malapetaka bagi tim yang melakukannya. Hal-hal tersebut antara lain:
1. Diving

Diving dalam sepakbola adalah hal yang dianggap tabu tapi cukup sering dilakukan. Secara etimologi diving berarti menyelam, pemain menjatuhkan diri seperti menyelam di atas lapangan hijau. Secara defininsi diving berarti menjatuhkan diri tanpa adanya sebuah gangguan atau pelanggaran yang dilakukan pemain lawan. Diving adalah hal yang paling dibenci sekaligus disenangi oleh devender lawan. Ditakuti jika sang "diver" sukses mengelabuhi pandangan dan perspektif wasit soal hal yang terjadi di lapangan hijau. Senang bila aksi diver terbaca oleh wasit dan pelakunya diganjar hukuman setimpal oleh wasit. Banyak pesepakbola hebat mempunyai kemampuan khusus untuk hal yang satu ini. Sebut saja Filipo Inzaghi, Jurgen Klinsmann, dan pesepakbola termahal dunia Cristiano Ronaldo. Paling fenomenal adalah diving Jurgen Klinsmann saat final Pial Dunia 1990. Aksinya menjatuhkan diri saat man to man duel dengan defender Argentina Pedro Monzon menjadikannya pahlawan sekaligus lawan bagi banyak pecinta sepakbola dunia tak terkecuali di Jerman sendiri. Wasit yang saat itu belum faham betul tentang teknik diving dalam sepakbola mengganjar Monzon dengan kartu merah sekaligus memberikan penalti bagi Der Panzeer yang akhirnya membuat Jerman menjadi kampiun Piala Dunia 1990. Dalam perkembangannya, diving telah dijadikan sebuah teknik baru dalam dunia sepakbola. Beberapa tim memang sengaja menerapkan teknik ini dalam prakteknya untuk memudahkan mereka mencetak gol ke gawang lawan. Sampai sekarang, FIFA belum mampu menemukan jalan keluar yang efektif untuk menghukum jera para pelaku diving.
2. Provokasi
Provokasi adalah cara terefektif untuk mengadu-domba lawan. Provokasi memang belum begitu jelas halal, haramnya dalam sepakbola. Beberapa pihak menganggap provokasi adalah halal karena seni yang terkandung di dalamnya. Namun tak sedikit yang menganggap hal ini adalah sebuah dosa besar dan menodai unsur fair play dalam sepakbola. Sama halnya dengan diving, provokasi juga menjadi senjata rahasia bagi beberapa pemain yang dikenal pandai bersilat lidah untuk melakukan psywar atau ejekan yang kadang menjurus kepada rasisme dan pelecehan agama. Pesepakbola ini juga dibekali teknik dan skill khusus untuk melakukan hal yang tidak semua orang bisa lakukan ini. Mereka antara lain: Joe Barton, Marco Materazzi, Robbie Savage, dll. Cukup fenomenal saat aksi Materazzi memanas-manasi Zinedine Zidane di Final PD 2006 Jerman. Materazzi yang memang berlidah licin dengan sukses memprovokasi Zizou yang dikenal sebagai pemain kalem. Hingga Zidane yang habis kesabaran lantas menanduk Materazzi sehingga wasit mengusir kapten Prancis kala itu keluar lapangan. Provokasi lebih sulit dideteksi ketimbang diving karena tak terlalu terlihat secara visual melainkan secara verbal.
3. Meludah di Lapangan
Meludah adalah hal yang wajar dilakukan setiap manusia, namun jika kebiasaan itu masuk ke lapangan hijau apakah ini bisa dibilang boleh? Banyak pesepakbola melakukan hal ini. Umumnya mereka meludahkan permen karet atau hanya sekedar melepaskan beban di pikiran. Pesepakbola tenar macam Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo dikenal sebagai tukang ludah dalam sepakbola. FIFA sejauh ini masih menganggap hal ini sebagai hal yang biasa dan tak memberi peringatan apapun pada pemain yang melakukannya. Namun jika ini mengganggu keindahan dalam sepakbola nampaknya ini harus menjadi perhatian bagi FIFA.
Beberapa aspek diatas nampaknya menjadi sebuah hal yang menarik dalam sepakbola. Aspek ini mnjadi menarik karena di olahraga lain kamera tak pernah menangkap kejadian tersebut dalam prakteknya. Apakah pembaca pernah melihat pemain bulutangkis tiba-tiba menjatuhkan diri, atau pemain basket membuang permen karet di lapangan, atau juga pemain catur memprovokasi lawan. Jika belum, maka inilah keindahan sepakbola. Halal atau tidak memang belum jelas. Namun yang pasti ini adalah hal yang membuat banyak orang tertarik menyaksikan sepakbola.

Minggu, 11 September 2011

PERSIPURA = BARCELONANYA INDONESIA

Prestasi super mentereng Persipura Jayapura dalam kompetisi ISL musim lalu memang banyak mengundang pujian dari banyak kalangan. Persipura dianggap tim yang paling stabil dibanding tim-tim lain di Liga Super musim lalu. Persipura juga dianggap tim tersukses milik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Dengan bakat asli Papua, Mutiara Hitam menjadi kekuatan paling menakutkan di ISL musim lalu. Tak salah jika banyak pengamat sepakbola nasional membandingkan mereka dengan klub tersukses di dunia Barcelona. Bahkan saya pribadi menjuluki The Black Pearls sebagai Azulgrananya Indonesia. Berikut beberapa fakta yang membuat saya menjuluki Persipura dengan julukan tersebut:
1. Bermain Super Atraktif
Saya rasa semua pembaca setuju jika penampilan Persipura di musim 2010/2011 adalah yang paling atraktif dibanding tim peserta Liga Super yang lain. Persipura tak pernah bermain membosankan dengan bertahan atau mengulur-ulur waktu sekalipun bermain di kandang lawan. Persipura memainkan tiki-taka yang menurut saya 65% sempurna. Persisam dan Persib mereka kandaskan di kandangnya sendiri. Mencetak 63 gol sepanjang musim berarti mereka mencetak 1,9 gol rata-rata tiap pertandingan. Jumlah itu yang paling banyak dibanding tim peserta yang lainnya.
2. Formasi
Jika banyak tim menganggap Barca dan Persipura memainkan 4-3-3, saya justru melihat mereka bermain 4-2-3-1. Kedua tim sama-sama mengandalkan kreatifitas lini tengah dan kecepatan serta umpan-umpan pendek yang memanjakan mata para penikmatnya.
3. Boaz=Messi (Inspirator)
Jika melihat dari peran keduanya untuk masing-masing tim, saya rasa keduanya memiliki peran yang sama besar. Tak hanya jadi top skor di masing-masing klub tapi juga dianggap pemain paling kontributif bagi timnya. Keduanya tak hanya sekedar pemain biasa, namun keberadaan mereka dalam tim dianggap sebagai penyemangat dan mengangkat moral pemain lainnya. Soal posisi keduannya menempati 1 pos yang sama, yaitu satu tempat di belakang penyerang tunggal. Bochi di belakang Tibo dan Messiah di belakang David "el guaje" Villa.
4. Zah Rahan=Xavi (Otak Serangan)
Keduannya adalah sosok paling sentral di tim. Peran keduannya sama-sama sebagai playmaker sekaligus motor serangan bagi timnya. Baik Zahrahan maupun Xavi adalah komandan di lini tengah masing-masing tim. Keduannya tak letih berlari meminta bola dan membaginya kepada pemain-pemainnya yang lebih bebas. Keduannya tak jarang datang dari lini ke dua untuk membuat gol tak terduga.


5. Tibo=Villa
Peran keduannya sama-sama sebagai finisher bagi tim mereka masing-masing. Tibo adalah ujung tombak di Persipura yang disokong 3 gelandang serang. Kabes di kiri Boaz di tengah dan Tinus Pae di kanan. Sedang Villa didukung Pedro di kiri, Messi di tengah dan Iniesta di kanan.
6. Juara Liga
Yng paling fenomenal adalah titel juara liga domestik bagi masing-masing tim. Bagi Persipura ini adalah gelar kedua dalam Indonesia Super bagi Barca ini adalah torehan sensasional yang kesekian kalinya.
7. Pelatih Bertangan Dingin
Bak sebuah rumah yang kokoh selalu ada arsitek hebat yang mendesainnya. Tak terkecuali dalam dunia Sepakbola, peran pelatih selalu vital dalam tim sebagai pembangun karakter tim yang dibesutnya. Hal ini juga terjadi pada tim Persipura, dengan tangan dingin JFT (Jacksen F Tiago) The Black Pearl menjadi sebuah kekuatan menyeramkan di daratan Indonesia. Pep Guardiola menjadi pelatih tersukses Barca sepanjang sejarah melampaui torehan Johan Cruyff. Memberi banyak titel dalam 3 tahun melatih tim tentu bukan barang mudah, namun tangan dinginnyalah yang membuat semua itu berhasil.

Selasa, 30 Agustus 2011

RISING STAR ISL 2010/2011

Tanpa terasa ISL musim 2010/2011 telah usai dan banyak menghasilkan cerita-cerita menarik serta pemain debutan yang tampil baik di sepanjang kompetisi musim lalu. Berikut ini adalah beberapa pemain lokal yang menjadi rising star musim lalu yang layak kami apresiasi.
1. Joko Sasongko (Pelita Jaya)

Joko Sasongko menjadi sosok yang tampil baik bersama The Young Guns dalam kompetisi tahun lalu.Joko dianggap seorang gelandang serang muda yang mampu berkreasi baik sebagai gelandang sayap maupun sebagai penyerang lubang.Joko memiliki nilai tambah yang lain,yaitu kaki kiri yang sangat berbahaya yang menjadikannya penembak bola mati yang sangat ditakuti lawan.
2. Dirga Lasut (Sriwijaya)

Awalnya tak ada yang menyangka jika pemuda asal Sulut ini menjadi sosok andalan di Sriwijaya.Pasalnya, melimpahnya stok gelandang yang punya kemampuan di atas rata-rata macam Firman Utina,Ponaryo,Mahyadi,Arif Suyono maupun Okto Maniani. Namun Dirga menjawab kepercayaan yang diberikan Ivan Kolev untuk mendampingi Ponaryo Astaman di kala FU15 tak tampil karena cedera.Tampil baik sebagai gelandang bertahan maupun motor serangan menjadikan Dirga tak tergantikan di lini tengah.
3. Titus Bonai (Persipura)

Di antara banyaknya stok penyerang di Persipura macam Boas,Rahmad Rivai maupunTinus Pae, nama Tibo dianggap sosok paling minim pengalaman dari semua penyerang di klubnya.Tapi siapa yang menyangka jika pemuda yang satu ini justru menjadi ujung tombak dari skema 4-2-3-1 ala Jacksen Tiago. Perpaduan antara kecepatan,naluri membunuh,maupun skill menawan yang dimilikinya menjadikan Tibo pemain yang sangat berbahaya di daerah pinalti lawan.
4. Sunarto (Arema)

Tak ada yang menyangka jika seorang Sunarto mampu tampil baik di Arema musim lalu.Arema memiliki banyak penyerang berkelas dan lebih berpengalaman dibanding pemuda kelahiran 1990 itu.Sebut saja Noh Alam Shah,Chmelo,Musyafri,Amiruddin maupun Yongky Aribowo.Sunarto yang jebolan Arema junior mampu menunjukkan konsistensinya saat bermain bagi Singo Edan.Sunarto kerap menjadi penentu kemenangan bagi arema sekalipun dipasang sebagai pemain pengganti.
5. Riski Novriansyah (Persijap)

Riski Novriansyah menjadi pahlawan bagi suporter Persijap di putaran 2 ISL musim lalu.Mantan pemain Pelita Jaya ini mampu tampil baik saat dimainkan sebagai penyerang berduet dengan Beto Goncalves.Aksi penyerang yang juga bisa bermain sebagai gelandang serang maupun sayap ini nampaknya akan jadi rebutan klub-klub besar ISL musim depan.
6. Ferdinand Sinaga (Persiwa)

Satu lagi eks-Pelita Jaya yang berhasil menjadi rising star di ISL musim lalu.Ialah Ferdinand Alfred Sinaga yang tampil apik kala membela klubnya Persiwa.The Highlander julukan Persiwa tak lagi harus takut kala para penyerangnya seperti Boakay E Foday maupun Pieter Rumaropen tidak bisa bermain,karena ada pemuda bermarga Sinaga yang mampu menggantikannya dan tampil sangat baik.Ferdi awalnya bermain sebagai Winger Kiri saat bermain bagi Pelita Jaya namun karena naluri membunuhnya yang tinggi,maka Suharno pelatih Persiwa mempercayakan pos ujung tombak kepada pemuda yang satu ini.Kini panggilan timnas senior menantinya,kita tunggu saja aksinya berseragam timnas senior.
7. Lukas Mandowen (Persipura)
Tak satupun pecinta sepakbola yang mengenal nama ini sebelum kompetisi dimulai.Pemain jebolan PON Papua ini kalah tenar dibanding penyerang-penyerang Mutiara Hitam yang lain.Namun talenta pemuda ini layak diperhitungkan banyak bek lawan.Julukan supersub nampaknya layak bagi pemain tambun ini.Lukas yang hampir selalu dimainkan Jacksen Tiago di babak kedua selalu memberi kontribusi baik bagi timnya.Musim depan Lukas akan lebih matang untuk bermain di ISL.
Demikianlah ke-7 nama rising star musim lalu.Kita semua menunggu aksi mereka musim depan.

6 HAL TAK TERLUPAKAN DARI PIALA AFF 2010

Beberapa bilang ini basi, beberapa bilang hanya membuat luka lama terasa kembali pedihnya. Namun Piala AFF memang telah lama berakhir, akan tetapi seluruh Bangsa Indonesia tentu akan terus mengingat tiap detik drama yang tercipta desember tahun lalu. Memang negeri ini gagal mengangkat piala, namun bagi saya kita adalah Belandanya Asia Tenggara. Seperti belanda yang tak sekalipun mengangkat trofi walau mereka 3 kali di partai puncak, kita bahkan lebih banyak, 4 kali kita di final piala dunia medium Asia Tenggara itu tapi bernasip sial dengan tak sekalipun menggenggam titel. Namun bagi saya harga dan kebanggaan sebuah negara akan piala AFF tak sebanding dengan rasa Patriotisme dan Persatuan yang dapat diraih bangsa ini di bulan terakhir tahun lalu. Orang yang alergi terhadap sepak ola justru mencari obat penawarnya di senayan. Semuanya jadi satu, pedagang asongan, selebritis ibukota, pejabat pemerintahan, bahkan ibu-ibu rumah tangga bukti bahwa bangsa ini betul-betul bersatu Dan sembari kita mengingat rasa kebangsaan yang sempat membumbung tinggi bersama asa yang memang sudah pudar untuk mengangkat titel AFF lalu namun ada baiknya kita mengingat momen demi momen menarik sepanjang perhelatan tersebut. Berikut saya merangkumkan 6 hal yang tak bisa kita lupakan di AFF 2010 lalu
1. Kandasnya 2 Juara Terbanyak di Fase Grup

Siapa yang berani memprediksi sebelumnya jika 2 tim paling favorit juara gagal melaju ke semifinal AFF 2010 lalu. Thailand dan Singapura yang sama-sama tampil sebagai kampiun sebanyak 3 kali tak mampu berbuat banyak di AFF setahun silam. Tragisnya lagi pasukan negeri gajah putih tak mampu meraih satupun kemenangan di grup A piala AFF setahun silam. Anak asuh Bryan Robson hanya mampu meraih 2 poin hasil imbang lawan Laos dan Malaysia serta takluk dramatis dari tuan rumah Indonesia. Singapura tak setragis Thailand nasibnya. The Lions mampu meraih 4 angka hasil menang lawan Myanmar, imbang kontra Filipina dan takluk 0-1 atas Vietnam.
2. Filipina

Tak ada yang berani bertaruh rasanya jika Filipina mampu mengejutkan Asia Tenggara dengan lolos ke semifinal untuk kali pertama sekaligus memulangkan Los Galaticos Asean yaitu Singapura. Berpredikat sebagai tim yang lolos dari babak kualifikasi, The Azkals sebenarnya adalah tim terlemah di grup B sekaligus turnamen 2 tahunan itu. Namun pasukan negeri Manny Paquiao mampu memutar balikkan ramalan banyak pengamat sepak bola tentang kiprah timnas mereka.
3. Malaysia=Vietnam Indonesia=Thailand (De javu)
De javu adalah hal yang sangat sering terjadi dalam kehidupan ini tak terkecuali dalam sepak bola. Di turnamen AFF Cup juga terjadi peristiwa ulangan namun bedanya didapati oleh tim-tim yang berbeda. Jika melihat kiprah Malaysia di AFF tahun lalu, tentu membuat kita ingat tentang Vietnam di tahun 2008. Sama-sama terseok-seok di partai awal turnamen. Pada laga perdana, keduanya sama-sama takluk dari tuan rumah yang juga menjadi lawan tanding mereka di partai final kendati demikian mereka barhasil melakukan revenge di partai pamungkas. Nasib Indonesia juga tak jauh berbeda dengan Thailand, tampil luar biasa di partai-partai awal bahkan dengan status selalu menang keduanya tergelincir di partai final oleh lawan yang pernah mereka selamatkan di fase grup Malaysia dan Vietnam. Semua juga setuju jika AFF 2008 akan menjadi milik Thailand dan 2010 untuk Indonesia karena penampilan ciamik mereka sepanjang turnamen.

4. Firman Utina (From Hero to Zero)

Beberapa pecinta sepak bola tentu masih ingat dengan aksi Zinedine Zidane di Piala Dunia 2006 silam. Bermain cemerlang sepanjang kejuaraan tersebut, Zizou yang dikenal mampu mengontrol emosinya dengan baik, gagal membentengi emosinya kala diprovokasi Marco Materazzi. Alhasil kapten Tim Ayam Jantan dipaksa keluar lapangan dan membuat negrinya gagal jadi kampium Piala Dunia 2006 silam. Kendati demikian, Pemain termahal dunia saat itu berhasil menjadi Pemain Terbaik sepanjang kejuaraan. Di Asia Tenggara terdapat cerita yang serupa tapi tak sama, ialah Firman Utina. Dipuja bagai Dewa di awal-awal turnamen, Firman membuat sebuah kesalahan yang berada di luar dugaan banyak orang. El Capitano Indonesia gagal mengeksekusi tendangan pinalti yang berhasil dilakukannya saat melawan Laos. Kegagalan eksekusi pinalti tersebut juga menjadi penyebab terbesar gagalnya garuda merengkuh trofi juara 2010 silam walau secara individu Firman diapresiasi sebagai MVP oleh Penghelat turnamen.
4. The Power of Blue, The Loser in White


Sepakbola tentu tak dapat dipisahkan dari jersey atau seragam kebanggaan tiap tim. Banyak tim besar dunia dikenal oleh Jersey yang mereka kenakan. Misalnya Belanda yang di juluki De Oranje karena jersey Oranye yang mereka kenakan. Manchester United dikenal dengan nama Setan Merah juga karena warna seragam home mereka. Tak jarang tim mendapat hokinya atau bahkan sialnya karena seragam itu sendiri. Salah satunya adalah Malaysia dan Indonesia. Malaysia sebenarnya memiliki jersey kandang berwarna kuning, namun Harimau Malaya tak kunjung meraih hoki dengan warna tersebut, sehingga tim memutuskan membalik jersey home dari berwarna kuning dengan jersey berwarna biru. Biru nyatanya menjadi warna keberuntungan bagi Malaysia, saat berseragam kuning mereka tak meraih satupun kemenangan di AFF cup lalu. Namun dengan baju berwarna biru, mereka mengamuk dengan selalu tampil baik salah satunya saat mengandaskan Indonesia di puncak AFF 2010. Indonesia justru mengalami kebalikannya, Garuda yang perkasa dan selalu menang dengan jersey tandang berwarna merah justru meraih kekalahan pertamanya di turnamen saat mengenakan seragam tandang warna putih.
5. Laser

Laser dalam sepakbola memang bukan lagi barang baru. Kendati FIFA telah mengharamkannya namun insiden terebut masih saja terjadi tak terkecuali di AFF Cup 2010 silam. Laser pointer digunakan oleh suporter timnas Malaysia untuk mengganggu penglihatan para pemain lawan saat berlaga di kandang mereka Stadion Bukit Jalil. Hal itu dilakukan suporter Malaysia kala Semifinal leg I melawan Vietnam dan Final leg I kontra Indonesia. Berkali-kali kamera televisi menangkap ulah jahil para suporter Malaysia tersebut. Bahkan karena sangat terganggu terhadap pancaran sinar laser Suporter lawan, para pemain timnas Indonesia sempat melayangkan protes kepada wasit sehingga wasit yang memimpin final leg I piala AFF harus menghentikan pertandingan selama beberapa menit. Beberapa Surat kabar di Vietnam dan Indonesia menyebutkan bahwa kekalahan timnas mereka atas Malaysia bukan karena masalah teknis tim melainkan pancaran sinar laser tersebut.
6. Indonesia (Juara Tanpa Mahkota)
Indonesia memang tampil sempurna di 5 laga awal Piala AFF 2010. Tak sekalipun gagal meraih kemenangan, Garuda Army berhasil mencetak 15 gol dan hanya 2 kali kebobolan hingga semifinal leg 2. Laskar Merah Putih hanya tersandung 1 kali di final leg 1 lawan Malaysia. Namun itu cukup untuk mengubur mimpi Garuda meraih titel pertama ajang sepakbola Asean. Bahkan jika AFF Cup 2010 berformat kompetisi dan bukan turnamen sudah barang pasti kitalah juaranya. Indonesia berada di puncak klasemen dengan 18 poin dengan hasil 6 kali menang dan 1 kali kalah. Sebenarnya kita adalah tim dengan penyerangan terbaik. Indonesia mampu mencetak 17 gol, jumlah yang tentu lebih besar dari torehan Malaysia yang hanya mampu membuat 11 gol. Indonesia bahkan juga mampu menampilkan gaya permainan menyerang dan sangat modern sehingga banyak mengundang decak kagum dan pujian dari para pengamat sepakbola luar negeri. 4 kali final namun 0 kali juara itulah kita. Tapi kami yakin di final ke 5 kitalah juaranya.

Itulah 6 hal tak terlupakan di AFF 2010 silam, keenam hal diatas kini tinggallah memori yang masih adalah semangat bangsa ini untuk bersatu salah satunya melalui cabang olahraga terpopuler di negeri ini sepakbola.







Kamis, 24 Februari 2011

LPI, Membangun atau Merusak?

Akhir tahun 2010 lalu, sekelompok masyarakat pecinta bola yang diketuai oleh Arifin Panigoro membentuk sebuah kompetisi sepakbola yang profesional dan mandiri. Sekalipun mendapat penolakan keras dari otoritas tertinggi sepakbola Indonesia Liga yang dianggap akan memprofesionalitaskan sepakbola Indonesia itu tetap bergulir. Bahkan awal tahun 2011 lalu,LPI resmi menggelar pertandingan pertamanya di kota Solo. Kini pertanyaannya, mampukah LPI memperbaiki kondisi sepakbola Indonesia atau malah menenggelamkannya? Di Entri ini saya akan mencoba mengulasnya.
1. Keuangan Secara Mandiri
Satu yang paling mencolaok antara ISL dan LPI adalah pendanaan klub pesertanya. LPI mengklaim pendanaan klub pesertanya adalah mandiri dibanding Liga Super Indonesia yang hampir semua klub pesertanya masih menggantungkan diri pada APBD. Namun kalimat mandiri nampaknya harus dikaji lebih lanjut. LPI memberikan pinjaman lunak kepada para pesertanya di awal kompetisi dan harus mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Tapi hal tersebut nampaknya sulit dicapai bahkan hampir irrasional. Pasalnya mengembalikan dana Puluhan Milyar bukanlah hal yang gampang bagi sebuah klub sepakbola yang baru saja berdiri kemarin sore. Darimana dana pinjaman tersebut dapat dikembalikan? Jika dari sponsorship nampaknya sulit. Hampir semua tim peserta LPI tidak memiliki sponsor yang namanya tercetak dibagian depan baju para pemain. Hanya PSM Makassar dan Persebaya Surabaya yang notabene "eks" yang Liga Super memiliki pendanaan lumayam dari sponsor. Sedangkan yang lain?\
2. Klub-Klub Peserta
Klub-Klub LPI mengklaim mereka adalah klub profesional di Indonesia. Nama-nama mereka juga menarik seperti nama tim-tim sepakbola di luar negeri. Sebut saja :Tangerang Wolfes, Semarang United, Medan Chiefs dll. Tapi tahukah anda mayoritas klub LPI adalah klub yang baru kemarin berdiri. Hanya beberapa tim saja yang sudah lama berkiprah dalam jagad sepakbola nasional. Uniknya tim yang punya nama tersebut semuannya adalah "alumnus" ISL. Macam Persibo, Persema, PSM, dan Persebaya. Hanya merekalah yang punya suporter yang telah mendarahdaging rasa kecintaannya terhadap klub pujaannya.
3. Kualitas Kompetisi
Bisa ditebak dengan tim-tim yang masih "bayi", LPI tidak(belum) mampu menggelar kompetisi yang sebaik dan sekompetitif ISL. Kualitas permainan tim-tim peserta LPI rata-rata berada di bawah kelas tim ISL. Lihat saja Persema dan Persebaya yang merajai LPI. Padahal kedua tim tersebut adalah tim dengan label medioker bahkan papan bawah di ISL. ISL juga masih dianggap salah satu kompetisi terbaik di dataran Asia. ISL menempati urutan ke-8 dari seluruh kompetisi domestik di daratan Asia. ISL juga masih yang terbaik di ASEAN, lebih baik dari Liga Thailand, Singapura, atau Malaysia. Sponshorsip ISL ADALAH YANG terbaik kedua di Asia setelah J-Leage milik Negeri Sakura Jepang.
4. Keabsahan/Legalitas
Jika dikatakan tim-tim LPI lebih berani jor-joran dalam belanja pemain memang betul, tetapi seakan-akan semuanya tidak berguna saat FIFA menganggap LPI adalah ilegal. FIFA menganggap LPI yang berada di luar PSSI itu melanggar aturan yang dibuat FIFA. Dengan hal tersebut LPI tak ubahnya sebuah kompetisi "tarkam" (Tarikan Kampung) karena tanpa persetujuan dari otoritas tertinggi dalam sepakbola Dunia.
5. Dukungan Suporter
Jika berbicara suporter gila dan fanatik di Indonesia sangatlah banyak. Lihat saja Aremania, Viking, Jakmania dll. Tapi hanya 4 tim LPI yang memiliki suporter paling fanatik. Bonekmania milik Persebaya, Ngalamania milik Persema, Boromania,dan The maczman saja. Sedangkan tim yang lain selalu sepi jika bermain di kandang sendiri. Seluruh stadion sepi saat tim-tim LPI berlaga hal itulah yang menjadikan LPI seakan dijauhi penonton
Dari fakta-fakta diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ISL adalah kompetisi yang resmi milik FIFA, PSSI, dan Bangsa Indonesia. Marilah kita dukung dengan memperbaikinya jangan merusaknya dengan Kompetisi baru yang berpotensi melahirkan hukuman bagi sepakbola Nasional. Wassalam

Senin, 25 Oktober 2010

Great Boys

Indonesia with 230 millions people inside has a lot of great talents. Not Less in football. The most popular and favourite sport activity in Indonesia. The Indonesia Super League has made a lot of great talents from the profesional competition. We want to show who are the best boy in each positions.
A. Goal Keeper
1. Kurnia Meiga (Arema Indonesia)

This Arema goalkeepeer may be the next Hendro Kartiko, and Ronny Paslah. His performance always increased after the first Arema goalkeeper Markus Harison going out from Arema.
2.Made Wirawan (Persiba Balikpapan)

He is the next I Komang Putra as the great Balinesse Goalkeeper.
B. Defender
1. Irfan Raditya (Arema Indonesia)

This boy always play wall with his partner in Arema centerback Piere Njanka. With proportional apperance 183 cm. He is the king in high ball.
2. Benny Wahyudi (Arema Indonesia)

This ellegant wing back can plays in left and right position
3. Muhammad Nasuha (Persija Jakarta)

This multitalented player can play in many positions like holding midfielder, wing back, and wing midfielder.
4. Wildansyah (Persib Bandung)

This boy can playing well with his thundems in persib Maman Abdurahman and Nova Arianto.
C. Midfielder
1. Ahmad Bustomi (Arema Indonesia)

This golden boy can plays as holding midfielder, offense midfielder, playmaker, and winger in Arema. He should be the next Ponaryo Astaman and Bima Sakti.
2. Atep (Persib Bandung)

This winger has good speed and accurate shot to the forwarders.
3. Diva Tarkas (PSM Makassar)

This Makassar boy has fighting spirit and speed to destroy the opponent
4. Ian Kabes (Persipura Jayapura)

Ian Louis Kabis is like the other Papua talent. He has skills. speed, and power.
5. Andik Vermansyah (Deltras Sidoarjo)

This little boy can plays explosive, full speed and high determination.
6. Hendro Siswanto (Persela Lamongan)

This boy can plays powerfull and high determination.
7. Ferry Ariawan

This player can plays as forwarder, and offense midfielder
D. Forwarder
1. Yongki Ariwibowo (Arema Indonesia)

This boy has played well with Persik Kediri with his thundem Saktiawan Sinaga.
2. Jaya Teguh Angga (Persema Malang)

This player has technique ang skill as alone striker
3. Tinus Pae (Persipura Jayapura)

4. Samsul Arif (Persibo Bojonegoro)

This little boy has speed and skill wiyh high determinations.

We hope our football future can be bright with these boys